Wewe Gombel

Dulu... ..tetangga belakang rumah saya pernah di culik Wewe Gombel.

Beliau masih panjang umur sampai sekarang tetapi menjadi pribadi yang sulit di fahami oleh lingkungannya.

Sebenarnya apa itu Wewe Gombel ???

Dari berbagai sumber yg saya kumpulkan,
 Konon dahulu kala di Dusun Gombel Semarang yg terletak di pulau Jawa ada seorang wanita yang tidak bisa memberikan keturunan kepada suaminya.

Setelah menunggu lama sang suami tergiur godaan wanita lain dan meninggalkan istrinya begitu saja.

Akhirnya si istri pun depresi yg berlanjut pada gangguan kejiwaan dan berakhir bunuh diri.

Wanita malang yang mati berduka itu akhirnya menjelma menjadi wewe gombel,,
 yangmana menurut cerita rakyat hanya tertarik pada anak-anak yang di abaikan oleh orang tuanya.

Penggambaran rupa Wewe gombel itu sendiri yaitu gigi yang bertaring, tinggi besar, kulit hitam gelap, rambut panjang awut-awutan, jari tangan dan kuku-kuku yg sangat panjang dan kotor, ditambah lagi payudaranya yang besar dan menjuntai.

Alangkah mengerikannya...

wujud wewe gombel

Sang wewe katanya penunggu pohon besar yang rimbun, selokan, pinggiran sungai, atau kuburan.

Di sana lah dia hidup dan berkembang biak. (siapa Suaminya?)

Wewe mulai berkeliaran pada pergantian terang ke gelap atau biasa kita sebut senja hari.

Dia menyambangi rumah warga sambil mencuri dengar pencakapan dan kegiatan di dalamnya.

Adakalanya duduk di atas pohon kelapa atau pohon pisang di halaman rumah atau pohon tua rindang lainnya.

Terkadang juga berdiri di sudut rumah yang temaram.

Apakah anda pernah merasakan kehadirannya???

Apakah merindingnya bulu kuduk anda pertanda dia sedang mengawasi???

Anak yg masuk kategori "minat culik" sang wewe pun tidak asal.

Dia mengkhususkan pada anak yg menurut si wewe di telantarkan.

Misal : Masih keluyuran di waktu senja atau anak yg menangis di malam hari dan di biarkan kurang perhatian karna kesibukan orang tua.

 Intinya menurut si wewe anak-anak itu tidak di inginkan orang tuanya.

Wewe gombel biasa menjelma menjadi sosok yg akrab di kenali si anak dan mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat.

Dan kebanyakan niatnya itu tidak akan di tolak.
 Dengan cara itu dia membawa si anak berpindah ke alam jin.

Yaaa... mungkin sebenarnya si wewe punya niat baik.

 Ingin memelihara dan menyayangi anak yang di anggap terlantar tersebut.
Atau ingin menyadarkan orang tuanya bahwa anak mereka berharga.

"Saya yang tidak di beri keturunan di perlakukan dengan tidak adil oleh suami saya, kenapa kamu yg di beri rezeki anak malah menyia-nyiakannya?" 

Mungkin seperti itu suara hati sang wewe

Toh buktinya anak yg hilang tersebut tidak di lukai. mereka tinggal dalam pelukan sang wewe bahkan di beri makan.

Walaupun tentunya bukan makanan manusia pada umumnya.

Karena "kotoran manusia" lah makanannya.

Si anak di beri makanan tersebut dengan tujuan untuk mengaburkan ingatannya dan melindungi eksistensi si Wewe supaya nanti jika orang tuanya menyadari kesalahannya dan mengupayakan anak itu agar kembali ke rumah, si anak tidak akan mampu mengingat dan menceritakan secara gamblang apa yang telah di alaminya.

Adapun cara mencari anak yg hilang itu sendiri yaitu dengan cara memukul-mukul tampah yg terbuat dari bambu sambil memanggil manggil namanya.

Usaha itu bisa berhasil bisa juga tidak .
 Anak-anak yang di temukan kembali itupun kebanyakan tidak lagi menjadi dirinya yang dulu.

Mereka pemurung dan suka menyendiri. Atau malah tempramental dan pemarah.

Keberadaan jin yg hidup berdampingan dg manusia memang sudah sepatutnya kita yakini. meski berbeda alam tidak bisa di hindari terkadang kita sering bersinggungan.

Benarkah Ada Wewe Gombel??

Anggaplah dalam hal ini saya sok mengkritisi karna menurut nalar saya banyak kejanggalan pada kisah ini :

1. Apakah benar manusia yg meninggal bisa menjelma atau "malih rupo"????

Menurut keyakinan saya roh dari orang yang sudah meninggal tidak bisa menjelma menjadi sosok apapun. Penjelmaan itu adalah pekerjaan jin yg memang ingin menyesatkan manusia.

2. Mahluk astral di atas dinamai wewe gombel karna kejadian itu berlangsung di desa Gombel.

Andai terjadi di Bangka Belitung mungkin namanya menjadi "wewe bangka".

Yah... similiar name dong dengan "martabak bangka" kasihan ya abang martabak jadi galau dan bagaimana kalau terjadi di Garut?
Atau di Palembang? ‪

Jika asal cerita ini memang dari daerah Gombel Semarang bagaimana bisa sang wewe bermigrasi ke daerah saya dan tempat yg lain?

3. Pernah baca Cerita yg di usung Kompassiana dan Merdeka.com tentang warga yang menemukan 18 kutang berukuran besar di jemuran mereka yang di duga milik wewe??

Owh.. sang wewe pakai pakaian dalam juga ya?
Kapan pakainya?
Kenapa tidak di kenakan saat ia berkeliaran?

4. Pernah dengar tentang Pesugihan "popok wewe"??

Percaya?

katanya jika kita melakukan perjalanan di waktu dan tempat yg tidak lazim, misalnya senja hari masuk ke dalam hutan atau kuburan.

 jika beruntung kita akan menemukan jemuran popok kotor dan usang yg di duga milik anak wewe.

Dan jika kita punya keberanian mengambil dan membawanya pulang kita akan punya kemampuan tidak kasat mata.

Seperti jenis pesugihan lain yg banyak diminati.

Adakah yg tertarik dengan pesugihan yg satu ini?
 adakah pelaku yg ingin berbagi kisahnya?
 Atau...
Adakah Wewe yg bisa bantu mengklarifikasi kisah ini???

Terlepas dari benar dan tidaknya kisah mistis ini dan mitos tentang ketertarikan Wewe Gombel pada anak manusia yang menurutnya di telantarkan itu.

Pelajaran yg bisa kita petik adalah bahwa benar anak-anak memang butuh di perhatikan, butuh di dengar, butuh merasa di cintai.

Karena jika kita abaikan mungkin kita akan sungguh-sungguh kehilangan mereka.
Entah itu hilang karena di ambil wewe seperti yg banyak orang takutkan atau mereka tetap satu atap bersama kita tapi hidup dalam dunia yg berbeda.

mereka menjaga jarak, menganggap kita orang asing, tidak lagi ingin berbagi kejadian yg mereka alami.

Mereka menutup diri. tidak lagi menganggap kita sebagai labuhan kasih sayang yg membuat mereka merasa nyaman aman dan di cintai.

Bukan kah itu sama saja dg kita sudah kehilangan mereka?!!
Kita sudah Kehilangan cinta mereka.

Segala bentuk pengabaian kita terhadap merekalah sosok Wewe yg sebenarnya.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+